Suatu hari saya ditanyakan siapa President yang layak buat Indonesia di pilpres nanti oleh sahabat saya, maka saya jawab "kedua pasang calon yang ada adalah putra terbaik bangsa, yang insyaallah membawa kebaikan bagi Indonesia"
Lalu dia kembali bertanya soal pilihan saya dari 2 pasang calon yang ada, dan saya jawab "yang di SEBELAH KANAN"
Tidak puas dengan jawaban saya maka sahabat saya tersebut kembali bertanya soal alasannya alasannya, maka akan saya jawab "sebab kanan itu untuk sesuatu yang baik"
Lalu sahabat saya dengan nada sedikit meninggi menanyakan mengapa saya kehilangan logika, ideologis, dan daya kritis saya sebagai sarjana Ilmu Politik dengan menjawab seperti itu.
Dengan sedikit menggela nafas saya jelaskan kepadanya "Hufft. Sahabatku, bukankah saya sudah berdialektika dengan segala logika? Tapi kamu justru menutup mata dan telinga.. Sementara kamu biarkan mulutmu terbuka untuk mengucapkan sesuatu yang kebenarannya belum pasti, sesuatu hal yang bisa jadi justru fitnah untuk saudara seimanmu. Artinya apapun jawaban saya baik dengan logika atau tidak, tidak ada artinya buatmu. Lalu masih pentingkah kamu merisaukan pilihan saya? Saya akan tetap sahabatmu sampai kapanpun, meski kamu anggap tidak lagi karena perbedaan pilihan. Bukankah penting memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar?"
Setelah lama terdiam, akhirnya sahabat saya berkata "ya kamu benar, mungkin aku yang tidak terbiasa dengan perbedaan, apalagi harus besebrangan dengan sahabatku sendiri"
"putih itu memang bersih, namun perbedaan itu yang membuat kita kaya. Karena kita manusia, bukan robot yang bisa di program untuk seragam. Saya memang tidak memasang lambang garuda di dada, namun saya tidak pernah menghapus kalimat bhinneka tunggal ika dari hati ini" ujar saya.
Sahabat saya terdiam dan sesekali menunduk dan memalingkan muka untuk tidak menatap saya. Sayapun sebenarnya agak menyesal menyampaikannya dengan nada yang agak tinggi. Dengan tangan terlipat di pinggang sahabat saya menatapi langit kosong sore itu dan dia menghela nafas panjang lalu menatap saya, saya pikir dia akan marah. Sejenak coba saya maknai arti tatapannya dan saya simpulkan bahwa yang saya lihat bukan mata seseorang yang marah, tapi justru mata seorang pejuang yang sedang semangat-semangatnya. Dengan menunjukkan telunjuk dan jari tengah kanannya sahabat saya berkata "rasanya ini juga tidak buruk seperti perkiraanku. Salam 2 jari bro"
"jadi..?" ujar saya sambil mengerutkan dahi penuh tanya
"saya suka konsep tidak perlu garuda di dada tapi bhinneka tunggal ika di hati" ujar sahabat saya sambil menepuk pundak
"oke bro, saya tidak pernah paksakan pilihan saya ya?" tanya saya memastikan dan dijawab dengan senyum dan sebuah anggukan yang menurutku sudah lebih dari cukup untuk sebuah jawaban
Matahari sudah tinggal setinggi penggarisan, dan kebetulan saya masih ada beberapa urusan lain yang harus segera dituntaskan, sehingga saya harus akhiri percakapan yang berkesan sore itu. Sambil berpose ala salam dua jari saya berpamitan "saya jalan dulu, Assalamualaikum, salam 2 jari" ujar saya
Setelah agak jauh sahabat saya berteriak "seperti yang kamu bilang aku akan jadi sahabatmu sampai kapanpun. Persahabatan kita no.1 urusan presiden no.2"
Tanpa menoleh saya acungkan 2 jari setinggi-tingginya.
Entah apa pilihan sahabat saya kelak di bilik TPS, pastinya persahabatan kami adalah yang utama dan bagi saya President tetap no.2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar