Mengenai Saya

Foto saya
DKI Jakarta dan sekitarnya, Indonesia
Seorang yang masih jauh dari sempurna, yang terus belajar dan berusaha untuk jadi yang terbaik (setidaknya untuk seseorang yang mengenalku)

Minggu, September 13, 2009

... ...

Aku ga' tau apa yang namanya cinta. Yang aku tau kadang aku nyaman deket dia, tapi kadang-kadang aku benci & menghindar. Dari semua itu ada satu yang aku ga' bisa bo'ong, bahwa aku ga' pengen kehilangan dia. Dia yg terbaik buat aku hingga akhir & ta' ada yg boleh menggantikannya, ta' akan bisa. Karna hanya dia yg aku cari, dia milikku

...andai aku bisa...

Rabu, Maret 18, 2009

Jalan Yang Panjang

Dibentangkan tuhan jalan di hadapanku
Jalan lurus yang panjang
Namun ku tempuh dengan berbelok berkali-kali
Untuk tau siapa aku

Dibentangkan tuhan jalan di hadapanku
Jalan yang mudah untuk dilalui
Namun ku tempuh dengan kepayahan
Untuk tau seberapa mampu aku

Kini aku sampai di ujung jalan itu
Kini jurang lebar membentang
Semoga aku tidak lelah setelah berkelok
Semoga aku tidak lelah setelah kepayahan

Aku akan melompat sejauh yang aku bisa
Dengan kepastian yang aku temukan di jalan panjang
Aku tidak boleh ragu
Karna ragu menjatuhkan

Doakan aku hai umat tuhan
Doakan aku agar jadi lebih baik setelah ini
Cukup sudah kurasakan jatuh dan sakit
Kali ini aku tidak mau mencoba dalamnya jurang

Rabu, Maret 11, 2009

Ketika Harus Memilih

Aku tidak bisa memilih, memilih sulit bagiku
Aku hanya mau jadi diriku dan itu seharusnya
Aku manusia yang ingin bebas
Tanpa sangkar bak malam ini

Aku pikir aku sudah lakukan yang terbaik
Ternyata salah hasilnya
Penilaian tiap orang berbeda
dan jatuhkan vonis sesuka

1 salah bunuh 1000 benar
Noda yang dibawa sampai mati
Hanya pandangan berbeda
Pola pikir haruskah dipaksakan

Bentanganmu memang indah, ku akui itu
Taklukan jalan terjal juga ku akui
Apa daya aku ta' punya kuasa
Itu sudah sebisaku saat ini

Mungkin semua menistakanku dan aku biar saja
Aku bukan pembantah, tolong jangan kau injak
Noda itu tidak bisa hilang
Semoga aku salah duga tentang ini

Rabu, Maret 04, 2009

Jadikan Itu

Aku hanya bisa tertawa, betapa pembualnya aku hari ini
Aku hanya bisa menangis, betapa pendustanya aku hari ini
Untuk aku yang selalu berlimpah pujian, semakin membuatku nista
Untuk aku yang selalu bersedih, semakin membuatku mengerti

Semua harus berganti, sebelum aku menyesal
Semua harus kubuktikan agar naif untuk dustaku
Tapi aku betah tertahan
Tertahan dengan semua kebanggaan yang semu

Padahal aku bukan siapa-siapa tanpanya
Tuhan hentikan sesaat pujian-pujian itu, agar aku ingat…!
Tapi jangan engkau cabut indahnya dariku, karna aku suka pujian itu
Jeda saja sesaat, layaknya film yang tidak laku

Aku yang tertahan, aku yang luka
Aku yang berjalan, aku yang lebih baik
Bantu aku berganti supaya jadi lebih baik
Bantu aku menapak agar lebih yakin tentang itu

Aku orang yang buta tanpamu, aku tidak bisa lihat tandamu
Aku orang yang terus menunggu, tanpa tau sudah berlalu
Jangan bosan denganku yang bodoh, karna aku mau belajar
Ajari aku melihat dan bantu menggenggamnya, aku pasti bisa

Dan bergemuruhlah semesta, pujian itu berganti
Dan berderulah ombak-ombak, perjamuan dimulai
Saat semua jadi milikku, semua milik untukku
Agar aku tersenyum dengan lepas di hari yang sangat damai, tanpa perang yang ku inginkan

Rabu, Februari 18, 2009

Kisah Tentang Bahagia

Pada suatu pagi saya melihat seorang yang pastinya biasa dipanggil Bos karna hartanya yang berlimpah. Diantar seorang supir, si Bos terduduk dengan nyaman dalam sebuah sedan mewah. Sesekali si Bos tampak serius mengutak-atik comunicator keluaran terbaru miliknya. Tanpa sadar terbesit dalam pikiran "kapan gw bisa kaya gitu. enak kalo punya uang banyak, mau beli apapun bisa. Kesimpulannya cuma 1, gw harus berusaha". Begitu pikir saya membangkitkan semangat hari itu saat itu.

Sore harinya di hari yang sama, saat itu hari mendung tanpa hujan. Ditemani udara yang bertiup sepoi-sepoi (jarang banget Jakarta kaya gitu), saya melintasi sederetan rumah kontrakan. Dari sekian banyak aktifitas yang ada, pandangan saya tercuri oleh sepasang suami-istri (saya tebak umurnya sekitar 40th awal). Si suami terlihat kumal, bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek, sementara sang istri tampak seperti baru selesai mandi, sungguh anggun mengenakan daster warna kuning dengan motif bunga. Sambil duduk di lantai teras yang sempit itu mereka bercanda dengan sesekali saling melempar senyum, malaikat kecil merekapun tampak bahagia berlarian di tanah lapang yang ada di depan kontrakan tersebut. Segelas teh yang terus mendingin jadi saksi kebahagiaan mereka sore itu.

Jadi teringat si Bos yang tadi pagi. Dengan uangnya si Bos bisa beli apa saja yang dia mau, bisa bahagiakan istrinya dengan uang belanja yang teramat sangat wah, bisa belikan anaknya mainan terbaru ataupun mobil mewah, bahkan kadang mereka sekeluarga pasti makan bersama di restoran, atau bahkan jalan-jalan ke luar negri bersama. Semua itu jelas tidak bisa didapat oleh keluarga yang tinggal di kontrakan tadi. Tapi sempatkah si Bos menyaksikan anaknya tumbuh besar, setidaknya mendengarkan curhatan kecilnya 1x sehari? Disela-sela kesibukan meeting di restoran hotel bintang 5 mungkinkah si Bos menengguk teh hambar di sore hari, yang dibuatkan istrinya dengan penuh kasih sayang?

Kesimpulannya setiap individu punya cara masing-masing untuk menemukan kebahagiaannya. Seperti keluarga di kontrakan tadi, mereka bisa bahagia mungkin karena mereka mensyukuri apa yang didapat hari ini. Mungkin satu sisi mereka menangis ketika semua harga melambung tinggi. Keluarga si Bos yang sangat berkecukupanpun mungkin secara materi mereka tidak ada masalah, namun bagaimana pusingnya si Bos memikirkan jumlah hartanya yang harus terus dia kumpulkan untuk membahagiakan keluarganya. Untuk anak dan istri si Bos mungkin kehilangan figur pembimbing, karena kini rumah mewah mereka hanya jadi ruang transit buat si Bos (seorang ayah dan suami yang harusnya tidak hanya jadi contoh, namun juga jadi pembimbing).

Kebanyakan dari kita adalah memusingkan harta untuk suatu kebahagiaan seperti si Bos, tapi masih menangis ketika semua harga naik. Jadi sebenarnya kita dalam posisi yang mengambil kerugian keduanya. Setidaknya ada 4 pertanyaan dari saya yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk memulai memetakan tujuan kebahagiaan hidup yang baru
  1. Apakah bahagia itu datang karna kita memiliki harta yang berlimpah?
  2. Atau kebahagiaan itu karena kita bisa mensyukuri keterbatasan kita?
  3. Mungkinkah kita dapat keduanya?
  4. Atau memang salah 1 harus kita korbankan sebagai konsekwensi?
Coba pejamkan mata, tarik nafas yang dalam, dan rileks. Bayangkan 2 keadaan di atas dan temukan jawabannya dalam dirimu

Selasa, Februari 17, 2009

Apakah Cinta Harus Memiliki...?

Kalian pasti pernah mendengar "Cinta ta' harus memiliki" atau "Aku rela melepasmu asal kau bahagia dengannya" serta kalimat lainnya yang serupa

Bagiku itu SALAH. Mungkin kamu sayang dan amat sayang padanya, tapi itu belum sampai pada tahapan cinta. Bagaimana dia bisa tau tentang seluruh cintamu bila dia tidak terus bersamamu? Melepasnya adalah bukti bahwa kamu bisa hidup tanpanya dan itu jadi batas cintamu untuknya.

Jangan paksakan bila itu hanya sekedar rasa sayangmu yang teramat dalam, namun pertahankanlah bila kamu yakin dia cintamu. Cinta akan ada pada seseorang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya, maka buat dia juga tidak bisa hidup tanpamu. Sadari bahwa kamu adalah bagian kecil dalam hidupnya, karnanya jadilah dirimu sendiri yang akan selalu dia ingat. Keburukanmu mungkin membuatnya membencimu, tapi yakinkan dia bahwa itulah sesuatu yang akan sangat dia rindukan darimu suatu saat nanti. Buat dia tersenyum dan jadilah yang terindah dari semua yang indah. Semua kekurangannya yang pernah membuatmu sedih dan terluka akan jadi manis nantinya, dan ketika kamu tersenyum.., maka kamu sudah memaafkan, dan itulah yang disebut menerima apa adanya..(setidakya menurutku).

"Karna dia bukanlah manusia sempurna, tapi bagaimana kita memandangnya dengan sempurna"

Bagaimana dengan anda..?

Minggu, Februari 01, 2009

Sama Saja, Bahkan Lebih Buruk

Aku selalu merasa sempurna dibandingkannya hanya karena 1 kesalahan besarnya.
Aku merasa benar atas prilakuku juga karena kesalahannya.
Tanpa kusadari kini semua sudah berbeda.
Aku kini jadi seorang pengecut yang selalu menutupi salahku dengan kesalahan besarnya.
Entah sejauh mana aku telah menyakitinya dengan semua kesalahan yang kuanggap tidak lebih besar dari kesalahannya.
Saat aku berbuat kesalahan besar kini aku sadar.
Kini aku tau rasanya tak termaafkan diri sendiri.
Aku menyesal tiada guna dan berharap bisa memperbaiki meskipun kesalahan itu tidak termaafkan.
Dan lainnya, ternyata akupun berbuat kesalahan besar dengan menumpukkan padanya semua salah kecilku yang kini menggunung.
Sesungguhnya kini kesalahanku telah melampauinya.

Kata orang mudah meminta maaf tapi sulit memberikannya, itu kurang tepat. Kadang mudah seorang berkata memaafkan dan beri kesempatan ke-2, tapi apakah kau sudah berlega hati bila teringat sebuah kesalahan orang lain padamu..? Sesungguhnya saat hatimu masih teriris saat mengingat suatu kesalahan orang lain, maka kamu belum memaafkannya dengan penuh. Semua orang berhak untuk kesempatan ke-2 dan janganlah kamu merasa lebih baik darinya. Karena bisa jadi dia telah berubah untuk mengobati lukamu, namun kamu justru jadi congkak karena kesalahannya.
Maafkan..!

Kamis, Januari 29, 2009

Manjanya Paku Pada Lukisan

Aku si Paku kecil dan kau lukisan indah.
Aku yang menjaga dan kau yang menghiasi.
Sudah sepantasnya kau bersandar padaku karna memang takdirku menjadi sandaranmu.
Mengapa engkau somobong padaku wahai lukisan..? Apa karena rupamu yang elok disuka dan di lihat banyak orang..?
Aku bisa bertahan dalam tembok kehidupan ini tanpamu, tapi kau tidak akan indah tanpa bergantung padaku.
Aku si paku ingin bermanja hanya pada pengait kecilmu, sementara kau bergantung pada seluruh tubuhku.
Sadarkah yang ku minta hanya sedikit, Itupun kulakukan agar kau tau bahwa aku senang menanggung bebanmu.

Rabu, Januari 21, 2009

Memaklumi

"Pada dasarnya manusia lebih mampu melihat kebaikan yang diberikannya untuk orang lain daripada sesuatu yang orang lain lakukan untuk dirinya."

Sudahkah kamu tampil apa adanya untuk kekasihmu..?


Seorang sahabat bernama Rainer pernah berkata pada saya tentang sebuah siklus tentang sepasang kekasih

  1. Pada awalnya sepasang kekasih baru ini sangat hangat, saling memberi, dan berbagi. "Poko'nya segalanya untukmu Chayankku"
  2. Adapun riak-riak kecil akan mudah teratasi
  3. Lama-lama jenuh merekapun menimbulkan sikap saling egois, asumsinya "selama ini gw udah banyak berkorban buat dia, skarang gantian donk (ga sadar bahwa sebenarnya pasangannyapun telah melakukan yang sepadan, bahkan mungkin lebih)"
  4. Karena merasa telah lebih baik dan lebih banyak memberi maka egopun semakin tinggi, disinilah bibit permasalahan akan timbul.
  5. Mulailah hubungan keduanya renggang dan mencari suatu kebahagiaan yang lain (entah main game, jalan bareng temen-temen (kaya waktu masih jomblo), dll, bahkan mungkin selingkuh)
  6. Bila salah satu tidak menyadari bahwa intinya adalah mau mengalah maka berpisah hampir dipastikan adalah jawabannya
  7. Bila salah satu mampu memperbaharui suasana maka kembali lagi ke No 1

Dari point-point diatas maka saya asumsikan bahwa intinya kecocokan yang ada di awal masa indah itu adalah topeng-topeng yang harus dibuka 1/1. Sedangkan kategori awal itu sendiri tidak ada batasan (bisa dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan Tahun). Mungkin pada suatu masa kita akan terkejut mengetahui keburukan-keburukan pasangan kita. Seorang teman bernama Doni pernah menanyakan pada saya "Vin, apa u pernah kentut di depan cewe u?". Hal yang sebenarnya simpel tapi tabu buat dilakukan oleh kebanyakan pasangan, itu semua karna kita selalu ingin terlihat sempurna di hadapan pasangan kita. Itu baru 1 contoh, belum lainnya. Sadarkah bahwa sebenarnya pasanganmu adalah kotak kejutan terbesar dalam hidupmu?

Berpikirlah kamu hidup untuknya, maka kamu akan terus memberinya (meski lelah) tanpa meminta. Belajar kesampingkan ego lalu mengalahlah untuk mengajari dia mengalah. Bukankah hidup ini jadi sempurna karena semua saling berpasangan? Begitu pula dengan kebaikan dan keburukan yang akan diimbangi dengan suatu kata yang saya sebut "memaklumi"